a

Irma Desak Kemenkes Penuhi Alkes di Daerah

Irma Desak Kemenkes Penuhi Alkes di Daerah

JAKARTA (5 Desember): Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irma Suryani menyoroti minimnya ketersediaan alat-alat kesehatan (alkes) di fasilitas kesehatan daerah. Ia mengaku mendapat keluhan dari dokter spesialis yang ditempatkan di daerah dengan sangat minim alkes.

“Contohnya begini Pak Menteri, spesialis jantung tentu butuh alkes-alkes yang bisa mendukung kerjanya. Tapi kalau alkesnya tidak tersedia, mereka keberatan ditempatkan di daerah-daerah,” ujar Irma saat Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11).

Menurut Irma, para tenaga kesehatan tersebut bukan tidak mau bekerja di daerah, tetapi alkes yang mendukung pekerjaan dalam melayani masyarakat tidak tersedia. Ia menambahkan, keengganan para tenaga medis untuk ditempatkan didaerah bukan hanya karena gaji.

“Bukan semata-mata karena gajinya tidak mencukupi. Tapi mereka bilang, otak kami tumpul Bu Irma. Otaknya menjadi tumpul karena apa? Karena tidak ada alat pendukung bekerja sesuai kemampuannya,” tandasnya.

Baca juga: Irma Suryani Terima Gelar Adat Ratu Pujian Warga

Legislator NasDem dari Dapil Sumatra Selatan II (Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Muaraenim, Lahat, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Ilir, Empat Lawang, Kota Pagar Alam, Kota Prabumulih, dan Penukal Abab Lematang Ilir) itu mendorong Kementerian Kesehatan untuk melengkapi alkes di faskes-faskes daerah.

“Ini harus menjadi perhatian. Jadi itu usulan yang disampaikan kepada saya terkait dengan alkes yang harusnya dimiliki oleh dokter-dokter spesialis yang ditempatkan di daerah-daerah,” tegas Irma.

Di sisi lain Irma juga mendukung program deteksi dini 14 penyakit yang digagas Menkes Budi Gunadi. Ia mendorong adanya manajemen penyakit yang lebih komprehensif dari deteksi dini, imunisasi dan pengobatan.

“Contohnya kanker serviks yang merupakan kanker yang paling umum keempat di kalangan wanita. Secara global dengan perkiraan 604.000 kasus baru dan 342.000 kematian pada tahun 2020,” ujar Irma.

Irma juga mengatakan, Kemenkes di era Menteri Nila Moeloek memiliki program vaksinasi serviks di beberapa daerah.

“Kita kan punya yang namanya program vaksinasi serviks yang dilakukan Kementerian Kesehatan waktu Ibu Nila Moeloek. Setahu saya kalau tidak salah di Yogyakarta, DKI dan Bandung,” tandas Irma.

Irma mendorong program tersebut dilanjutkan ke beberapa daerah lainnya di Indonesia. Menurut Irma, kanker serviks menyedot banyak sekali biaya dan banyak mengakibatkan kematian pada wanita.

“Program itu harusnya dilanjutkan ke provinsi-provinsi lainnya. Masalahnya kanker serviks ini menyedot begitu banyak biaya, begitu juga banyak kematian yang diderita oleh kaum perempuan. Ini tentu harus jadi perhatian Kementerian Kesehatan,” tegas Irma.

(dpr.go.id/*)

Add Comment