a

Mengurai Sambutan Surya Paloh di HUT ke-11 NasDem

Mengurai Sambutan Surya Paloh di HUT ke-11 NasDem

Oleh: Habib Mohsen Alhinduan

Anggota Dewan Pakar Pusat Partai NasDem

 

HAJATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 Partai NasDem kali ini berbeda dengan acara tahun kemarin yang dibuat di NasDem Tower. Rangkaian acara tahun ini sangat meriah, ramai gegap gempita dan diramaikan juga oleh para pedagang UMKM binaan Partai NasDem yang diikuti sekitar 300 booth dari berbagai daerah Indonesia.

Hajatan kali ini bertema NasDem UMKM Trade Show (NUTS) HUT ke-11 yang digelar mulai Rabu (9/11) tanpa dipungut biaya apapun alias digratiskan bagi pengunjung UMKM, akibatnya yang hadir membludak tak terbendung memenuhi ruangan hingga acara puncaknya penuh menjadi lautan manusia.

Di sela-sela sambutan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh menyikapi berita simpang siur di media sosial dan berbagai berita negatif sejak mendeklarasikan Anies Rasyid Baswedan sebagai calon presiden Partai NasDem tahun 2024.

Posisi NasDem ibarat seorang berada di kursi pesakitan. Berbagai macam tuduhan dan fitnah tertuju kepadanya hingga tentang hubungannya tidak harmonis lagi dengan Jokowi seolah-olah mengalami keretakan sebagai bukti batalnya penentuan hari deklarasi bahkan koalisi diributkan.

Belum lagi fitnah, hoax dan pelacur-pelacur intelektual menghantam NasDem, namun sikap NasDem di bawah komando Surya Paloh tetap dihadapi dengan penuh bijak dan tegar diibaratkan sebuah kapal di tengah lautan diterjang ombak dan angin yang keras tetap kondisi kapal berlayar tetap teguh berdiri dan  tidak tenggelam.

NasDem memiliki sikap dan jiwa yang tegar karena berkeyakinan membela dan mewujudkan impian untuk merestorasi bangsa ini membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang sangat besar dan tulus dan jujur. Hambatan-hambatan itu ibarat kerikil kecil dan NasDem tetap berjalan dengan komitmen untuk terwujudnya cita-cita yang mulia itu.

Sikap kami kader-kader NasDem seperti kata hikmah “Anjing menggonggong, kafilah berlalu: membiarkan orang lain berbicara, mencemooh atau mempergunjingkan Partai NasDem. Tetapi menghiraukanya begitu saja, membiarkan saja. Tidak dimasukkan ke hati tetap dengan pendiriannya sebagai partai yang hendak mewujudkan nilai-nilai kemuliaan dan kejujuran bukan sekedar lip service karena itu kebohongan yang bertentangan dengan norma etika dan agama. Ya NasDem Tetap NasDem.

Lip Service merupakan sebuah tindakan mengumbar janji yang tidak sesuai dengan realitanya. Islam menanggapi hal tersebut  sebagai sifat munafik, karena salah satu dari sifat kemunafikan yaitu ketika ia berjanji ia ingkar. Janji bukanlah masalah yang ringan atau sepele. Janji merupakan masalah besar yang berpengaruh bagi kebaikan di dunia maupun di akhirat. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 34)

Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar seorang ayah berkata kepada anak-anaknya “Aku akan memberikan sesuatu kepadamu.”

Nabi Muhammad bersabda kepadanya “Apakah kamu berniat akan memberinya?”

Dia berkata, “Tidak.”

“Engkau harus memberinya atau berkata benar. Sesungguhnya Allah melarang berbuat dusta,” ucap Rasulullah SAW.

“Ya Rasulullah, apakah ini termasuk dusta?” tanya laki-laki tersebut.

Rasulullah kembali bersabda, “Sesungguhnya segala sesuatu itu dituliskan. Dusta dituliskan dusta dan dusta kecil (sedikit) ditulis dusta kecil.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Dunya)

Seorang yang beretika diharuskan untuk menghindari perilaku mengumbar janji (lip service) dan berbohong sekecil apapun karena janji merupakan hutang yang harus dipenuhi.

Politik dan kebohongan seperti memiliki hubungan yang tidak bisa di pisahkan namun hubungan itu bukan selalu dilakukan pada setiap kondisi, karena kesannya setiap politikus bisa semena-mena berbohong hal ini berdampak buruk bagi politisi.

Dalam tulisannya Truth and Politics, Arendt lebih lugas memaparkannya. Tulisannya, “Tidak ada yang meragukan bahwa kebenaran dan politik memiliki hubungan yang agak buruk satu sama lain.”

Lanjutnya, “Kebohongan selalu dianggap sebagai alat penting dan pembelaan, tidak hanya untuk politisi dan demagog, melainkan juga sebagai keahlian seorang negarawan.”

Seolah-olah kebenaran adalah tempat mereka yang terpinggirkan. Meski terdengar tidak bermoral, dalam buku Republic, Plato (Platon) uniknya memberikan justifikasi moral atas penekanan tersebut. Keputusan Hukum yang menjurus kepada keadilan kemudian diputuskan berpihak kepada pihak terpidana merupakan keadilan itulah yang dimaksud Plato kebohongan yang mulia.

Pertanyaannya, mungkinkah penguasa dengan lantang menyebut keadilan itu hanyalah utopia? Sulit membayangkan itu dilakukan. Imbasnya besar, itu dapat menghancurkan kepercayaan terhadap hukum, rakyat menjadi anarkis, dan kohesi sosial dapat terpecah.

Bung Hatta menyebutkan Lip Service itu bertentangan dengan Nilai-Nilai Pancasila terutama sila pertama BerkeTuhanan Yang Maha Esa. Proklamator Kemerdekaan Indonesia Mohammad Hatta menerbitkan sebuah buku kecil (hanya 16 halaman), berjudul “Pancasila Jalan Lurus” (Bandung: Angkasa, 1966, Ejaan disesuaikan dengan EBI). Dalam bukunya itu, Mohammad Hatta (Bung Hatta) mengajak bangsa Indonesia agar jangan mempermainkan Pancasila, dan hanya menggunakan Pancasila sebagai “lip service”

Lip service itu dalam bahasa Inggris diartikan sebagai satu bentuk kemunafikan (hypocrisy): “an expression of agreement that is not supported by real conviction.” Yakni, satu bentuk persetujuan di mulut saja, tanpa diikuti dengan keyakinan.

Begini kata beliau. “Pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam artinya, tidak dapat dipermain-mainkan. Tidak saja berdosa, sebagai manusia kita menjadi makhluk yang hina, apabila kita mengakui dengan mulut, dasar yang begitu tinggi dan suci, tetapi di hati tidak dan diingkari dengan perbuatan.”

Menurut Bung Hatta, Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi hanya hormat menghormati agama masing-masing, melainkan menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan.

Dengan dasar ini sebagai pimpinan dan pegangan dalam kesatuan Pancasila, pemerintahan negara pada hekekatnya tidak boleh menyimpang dari jalan yang lurus untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan keselamatan masyarakat, perdamaian dunia yang abadi serta persaudaraan bangsa-bangsa,” demikian tegas Bung Hatta.

Lip Service identik dengan kebohongan dan kejujuran (ash shidqu) sangat identik dengan kebenaran. Kata jujur yang dapat di definisikan sebagai sebuah tindakan maupun ucapan yang lurus, tidak berbohong dan tidak curang. Jujur ialah merupakan salah satu nilai yang paling utama, karena tanpa kejujuran seseorang tidak akan mendapat kepercayaan dalam berbagai hal, termasuk dalam kehidupan sosial.

Surya Paloh menyikapi bahwa kejujuran sangat penting dan dapat diwujudkan dalam bentuk tidak melakukan kecurangan dalam berpartai. Lebih luas, contoh kejujuran secara umum dimasyarakat ialah dengan selalu berkata jujur, jujur dalam menunaikan tugas dan kewajiban sebagai kader-kader NasDem.

Kejujuran yang diucapkan oleh Surya Paloh pada sambutan HUT ke-11 NasDem dengan maksud selain itu, secara umum bahwa partai NasDem hendak mewujudkan kepedulian terhadap sesama seperti dengan turut membantu kepentingan sosial, negara dan bangsa.

 

Add Comment