a

Semua Pihak Harus Berperan Aktif Tangani Pandemi Covid 19

Semua Pihak Harus Berperan Aktif Tangani Pandemi Covid 19

JAKARTA (16 November): Seluruh pihak harus saling bantu, bahu-membahu, dan bersama-sama berperan aktif dalam penanganan Pandemi Covid-19. Tanpa kerja sama, akan sulit wabah itu berakhir di Tanah Air.

“Kita sudah ada kejenuhan dan kelelahan menghadapi pandemi Covid-19. Namun, kita harus sadar bahwa memang pandemi ini belum berakhir. Secara global kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan,” kata Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene dalam Forum Diskusi Denpasar 12 dengan tema ‘Mengantisipasi Naiknya Risiko Dampak Pandemi Covid-19 Menjelang Liburan Akhir Tahun’, secara daring, Rabu (16/11).

Berdasarkan data badan kesehatan dunia (WHO) per 15 November 2022, secara kumulatif kasus Covid-19 tercatat sebanyak 632 juta, dengan kasus meninggal sebanyak 6,6 juta orang di seluruh dunia. Dalam satu minggu terakhir, kasus Covid-19 secara global mengalami peningkatan sebanyak 2,3 juta orang.

“Di Tanah Air, kasus aktif mencapai 53.774 pasien. Kasus positif terus meningkat dalam seminggu terakhir. Kita semua tentu prihatin bahwa tren peningkatan kasus positif juga diikuti kenaikan kasus meninggal dalam satu minggu terakhir,” tegas Legislator NasDem itu.

Baca juga: Felly Pastikan Komisi IX DPR Bentuk Panja Kasus Gagal Ginjal Anak

Meningkatnya kembali kasus positif Covid-19, menurut Felly terjadi karena berbagai hal. Dimulai dari mutasi varian Omicron yakni XBB yang lebih cepat menyebar, hingga melonggarnya protokol kesehatan yang dijalankan masyarakat.

“Karakteristik subvarian XBB yakni cepat menular dibanding subvarian omicron lain, serta mampu menghindari kekebalan tubuh. Ditambah lagi menurunnya kewaspadaan kita dalam menjalankan protokol kesehatan. Maka kita bisa melihat direct impact terhadap kasus harian,” ujanya.

Felly menegaskan, penyebaran subvarian XBB perlu diwaspadai menjelang libur Natal, libur sekolah, hingga tahun baru. Pemerintah Indonesia memprediksi bahwa puncak kasus Covid-19 varian XBB akan terjadi pada Desember 2022 hingga Januari 2023 dengan 20.000 kasus per hari.

“Kita harus memahami apa yang kita hadapi, sehingga dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat. Tahun-tahun sebelumnya, kita menerapkan kebijakan yang ketat mengingat fatality rate yang sangat tinggi karena varian-varian sebelumnya. Walaupun para ahli menyampaikan bahwa subvarian XBB tidak banyak menimbulkan keparahan,” tandasnya.

Lebih lanjut Legislator NasDem dari Dapil Sulawesi Utara itu menegaskan, DPR RI khususnya Komisi IX terus mendukung segala upaya pemerintah dalam penanganan Covid-19. Baik dalam hal pendanaan, pengawasan, hingga pembuatan regulasi.

“Kami juga ingin memastikan bahwa anggaran untuk pembelian obat, alat kesehatan dan terapeutik yang dibutuhkan selama pandemi sudah tersedia dan teralokasikan dengan baik. Begitu juga dengan anggaran pelaksanaan program vaksinasi,” tegasnya.

Vaksinasi, kata Felly, harus terus dilakukan karena merupakan salah satu usaha intervensi yang sangat penting untuk pengendalian pandemi. Meski vaksinasi dosis pertama sudah mencapai target yakni 87,47%, namun vaksinasi dosis ketiga/booster masih jauh dari target, yakni di angka 28,04%.

“Booster masih sangat sangat rendah, masih ada di angka 28,04 persen. Pemerintah harus mengambil langkah strategis dan inovatif dalam meningkatkan cakupan vaksinasi booster,” tukasnya.

(dis/*)

Add Comment