a

Wirausaha Berbasis Masjid, Terobosan Baru Bangun Perekonomian Akar Rumput

Wirausaha Berbasis Masjid, Terobosan Baru Bangun Perekonomian Akar Rumput

Oleh: Habib Mohsen Alhinduan

Anggota Dewan Pakar Pusat Partai NasDem

 

AKAR rumput (grassroots) sering disebut-sebut oleh kalangan politisi dan intelektual yang dimaksud adalah rakyat kecil.

Akar dan rumput dua kata memiliki arti berbeda tapi jika disatukan dua kata itu akan memberi arti yang mendasar dan berpengaruh kepada kekuatan partai politik.

Akar fungsinya sangat vital bagi sebuah pohon. Pohon besar yang menjulang tinggi dengan cabang-cabang dan daun-daun yang lebat tergantung kepada menghujamnya sebuah akar, pohon besar tidak akan roboh sekalipun ditiup angin kencang.

Rumput memiliki banyak peran bagi kita, tanpa rumput yang muncul adalah tanah dan padang pasir gersang. Rumah mewah memiliki halaman luas pasti dihiasi rumput begitu juga peran rumput di lapangan sepak bola dan golf memiliki fungsi yang sangat vital.

Jangan memandang rendah fungsi dan eksistensi rumput. Dua kata jika digabung menjadi “akar rumput” menurut analis politik adalah eksistensi dan fungsi rakyat bawah atau rakyat kecil yang masif.

Kata Komaruddin Hidayat, mereka ini memiliki kekuatan sebagai penyangga jajaran elite yang berada di atas. Tanpa dukungan rakyat kecil, kehidupan berbangsa dan bernegara ini akan mudah ambruk ketika diterpa guncangan politik. Lebih bahaya lagi ketika akar rumput itu mengering, akan mudah sekali terbakar atau dibakar.

Sebatang rokok yang menyala akan membakar rumput yang kering itu. Penyebabnya rumput kering kurang disiram air atau akarnya sudah mengering. Bagi manusia disebabkan karena kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan ekonomi, meningkatnya jumlah pengangguran dan lainnya akan menciptakan keputusasaan para rakyat terhadap politikus dan pemerintah.

Adapun akar rumput itu adalah rakyat kecil lantaran kecil dan banyak, maka mereka dianalogikan dengan rumput. Demikianlah adanya, jika rakyat sudah sampai pada titik lelah, jenuh, dan terhimpit oleh tekanan ekonomi yang dirasakan semakin sulit, maka mereka mudah sekali diprovokasi untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya yang bisa menciptakan kerusuhan dan keresahan sosial.

Di sinilah, pentingnya kader politik partai sebagai wakil suara rakyat kecil harus memiliki terobosan yang baru agar masyarakat yang berada di akar rumput menjadi kuat, karena masyarakat Indonesia berpenduduk mayoritas muslim, sebagai terobosan membangun usaha sektor kecil dan menengah yang disebut wirausaha berbasis masjid atau disebut juga UMKM berbasis tempat ibadah.

Melihat perkembangan usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di negeri kita mendapatkan perhatian serius dari pemerintahan era Jokowi.

Spirit kerja, kreativitas, inovasi dan produktivitas selalu ditanamkan kepada setiap pelaku usaha ini.

Jokowi mengatakan pemerintah akan mendorong UMKM naik kelas. Perlu disadari bahwa unicorn sendiri merupakan start up dengan valuasi sebesar US$ 1 miliar. Sementara, decacorn merupakan startup dengan valuasi US$ 10 miliar.

“Digitalisasi ekonomi yang telah melahirkan dua decacorn dan sembilan unicorn terus kita dorong untuk membantu pemberdayaan UMKM,” kata Jokowi dalam sidang DPR-MPR RI 2024.

Jokowi mengatakan,19 juta UMKM telah masuk ekosistem digital. Ia menargetkan, sebanyak 30 juta UMKM masuk ekosistem digital di tahun 2024.

Berbagai bantuan pendanaan murah juga terus dilanjutkan. Penayangan produk UMKM di e-katalog pemerintah diharapkan akan menyerap produk UMKM.

Di saat yang sama, kewajiban APBN, APBD, dan BUMN untuk membeli produk dalam negeri juga akan terus didisiplinkan.

Erick Tohir orang nomor satu di BUMN mengatakan bahwa UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Sebagai Agent of Development, BUMN telah mengembangkan beberapa inisiatif untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas.

Jokowi menyikapi dengan senang program Menteri BUMN Erick Tohir memfasilitasi produk-produk unggulan UMKM Tanah Air agar mampu melebarkan sayapnya hingga pasar internasional.

Jokowi juga meminta kepada Sri Mulyani sebagai Menkeu, untuk mendukung ekonomi kerakyatan dan menggerakkan UMKM dalam Pemulihan Ekonomi Nasional. Menkeu mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi memintanya agar target volume penyaluran KUR bisa dinaikkan menjadi Rp.320 triliun di 2024.

Masyarakat kita mayoritas muslim berjumlah sekitar 270 juta jiwa, dan tercatat memiliki mushollah dan masjid sekitar 950 ribu se-Indonesia, belum tempat peribadatan agama lainnya, artinya Indonesia memiliki potensi pasar sangat besar dan menjanjikan.

Potensi ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan industri dalam negeri. Jangan sampai besarnya potensi pasar justru dimanfaatkan negara lain. Kita tidak boleh hanya sebatas menjadi konsumen yang menjadi target pasar dari produk-produk negara lain padahal kita memiliki produk dalam negeri yang hebat, banyak anak bangsa yang mampu menghasilkan karya-karya yang hebat.

Kita bersama-sama memahami bahwa selama masa pandemi transaksi perdagangan offline menurun drastis. Sebaliknya, transaksi online meningkat cukup signifikan. Tapi sangat disesalkan jangan sampai perdagangan online didominasi dengan pembelian produk-produk impor.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke 4 dunia yaitu 270 juta jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, menurut Bank Dunia, penduduk yang termasuk kelas menengah diperkirakan mencapai 134 juta lebih jiwa dengan memiliki pendapatan US$ 2 – US$ 20 per hari. Dari atas mereka ada kelompok orang kaya dan sangat kaya yang memiliki pendapatannya lebih besar dan sangat besar. Namun masih ada 27.7 juta penduduk Indonesia masih miskin.

Uniknya, di Indonesia ada sekitar 95 juta usaha mikro kecil (UMK) atau lebih tepatnya mereka masih menjalankan kegiatan usaha secara mandiri. Mereka itu adalah para self employed.

Melihat perkembangan usaha UMKM ini, butuh terobosan baru yang efektif yaitu pemanfaatan wirausaha berbasis masjid, agar masjid dapat memiliki fungsi yang lebih besar tidak hanya fungsi ibadah saja tetapi juga fungsi sosial dan ekonomi.

Memakmurkan masjid bukan berarti untuk aktivitas ibadah sholat lima waktu, atau sholat Jumat, sholat Idul Fitri dan Idul Adha atau kegiatan-kegiatan sosial, dakwah, majlis taklim, latihan pengkaderan dai, imam dan khotib dan lainnya.

Di samping itu, jamaah masjid yang aktif (rotib) berbagai macam katagori sosial yang berbeda, namun kebutuhan setiap jamaah untuk mengembangkan perekonomian merupakan faktor penting juga, dimana kondisi saat kini akibat pandemi covid-19 berdampak bagi semua sektor termasuk krisis ekonomi, sosial dan moral.

Memakmurkan masjid dengan bertujuan mengajak para jamaah agar mampu memakmurkan dan dimakmurkan masjid, maka dibutuhkan dibangun sebuah konsep produktif agar masyarakat muslim bergantungan kepada masjid dimanapun dan kapanpun.

Memakmurkan masjid itu dengan wirausaha. Anggota Dewan Kemakmuran Masjid termasuk para jamaah aktif diberi kesempatan dan akses yang luas untuk mengembangkan bakat wirausaha di berbagai bidang. Dengan meningkatkan kesejahteraan mereka dapat memantik masyarakat dapat meramaikan masjid.

Manfaat tersebut tidak hanya akan dinikmati oleh personal pengurus masjid yang akan mendapatkan bantuan wirausaha. Lebih daripada itu, masjid juga bisa mendapatkan keuntungan yang riil bila sistem wirausaha tersebut dibangun secara profesional.

Haruslah ada pembagian hasil kepada masjid karena pada dasarnya masjid-lah garansi mereka untuk mendapatkan modal usaha. Dengan demikian, masjid tidak lagi terkesan menjadi peminta-minta dari pihak luar ketika membutuhkan materi tertentu.

Bahkan jika sistem ini bisa dipertahankan secara berkelanjutan, Masjid akan mampu menggalakkan wirausaha secara massal di masyarakat.

Wacana memakmurkan masjid berbasis wirausaha merupakan langkah yang konkrit. Hal ini bisa diterapkan sesuai anjuran pemerintah ikut serta ambil bagian sebagai garansinya (anggunan).

Badan Zakat Infaq Shodaqah Wakaf dan Hibah (Ziswas) masjid merupakan salah satu badan yang bisa menjadi penopang (penjamin) atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga pengelolah jamiyyah masjid dan charity lainya di dalam dan luar negeri bertujuan memakmurkan masjid berbasis wirausaha.

Selain itu juga bekerjasama dengan bank berbasis syariah untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan wirausaha ini dan masjid sendiri harus memposisikan sebagai fasilitator dan garansi, sehingga mampu membuat program baru dengan memakmurkan masjid berbasis wirausaha.

(Bersambung)

Add Comment