a

Gobel Sayangkan Indonesia masih Impor Sampah Pakaian Bekas

Gobel Sayangkan Indonesia masih Impor Sampah Pakaian Bekas

JAKARTA (10 Juni): Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmad Gobel menyayangkan Indonesia masih melakukan impor pakaian bekas. Padahal sesuai aturan yang berlaku hal itu tidak dibenarkan.

“Ini sangat merugikan industri garmen rumahan yang berskala UMKM, juga tidak ramah lingkungan,” ungkap Gobel dalam keterangannya, Jumat (10/6).

Seperti diberitakan media, impor pakaian bekas masih marak terjadi dengan nilai triliunan rupiah. Angkanya terus meningkat sejak 2017. Padahal sesuai Permendag No 51/M-DAG/PER/7/2015, impor pakaian bekas dilarang dan jika sudah masuk harus dimusnahkan. Hal itu juga diatur dalam UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

“Selain ada faktor kesehatan, kita juga harus mempertimbangkan aspek moralitas bangsa dan aspek pemihakan kepada industri nasional,” kata Gobel.

Legislator NasDem itu menegaskan, industri garmen rumahan dan skala UMKM merupakan salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional. Sektor itu menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi salah satu penggerak ekonomi di lapis bawah sehingga sangat berpengaruh dalam mengangkat kemiskinan.

“Ingat, Bapak Presiden Jokowi selalu berpesan tentang membangun dari pinggiran. Itu artinya membangun dari desa dan dari bawah. Impor pakaian bekas tentu bertentangan dengan visi Bapak Presiden dan memperburuk ekonomi di lapis bawah serta melemahkan UMKM,” katanya.   

Di negeri asalnya, tambah Gobel, pakaian bekas berkategori limbah dan sampah. Selain itu, tidak semua pakaian bekas itu layak pakai dan akan menjadi sampah bagi Indonesia.

“Di sini kita sebagai bangsa harus menjaga dignity sebagai bangsa. Indonesia bukan bangsa sampah. Ini yang saya maksud tentang moralitas bangsa. Di mana wajah Indonesia diletakkan dalam konteks ini,” katanya.

Membangun industri, kata Legislator NasDem dari Dapil Gorontalo itu, membutuhkan kreativitas dan intelektualitas. Bukan seperti impor pakaian bekas tersebut. Tidak butuh kreativitas dan intelektualitas yang tinggi untuk impor pakaian bekas.

“Sedangkan membangun industri garmen, walau berskala rumahan dan UMKM tetap membutuhkan kreativitas dan intelektualitas. Harus bisa memahami desain, mengikuti tren, membaca pasar, manajemen industri, manajemen sumber daya manusia, dan sebagainya,” urainya.

Legislator NasDem itu mengakui bahwa industri garmen rumahan memang berskala kecil dan sederhana, namun itu akan menjadi wawasan dan pengalaman bagi dirinya, bagi anak-anaknya, dan bagi masyarakat sekelilingnya. Hal itu, tambah Gobel, tentu tidak bisa dibandingkan dengan skill importir pakaian bekas yang hanya membutuhkan koneksi dengan para pemegang kekuasaan dan kekuatan modal.

“Jangan lupa dari yang kecil akan menjadi besar,” katanya.

Gobel juga menekan, ada hal yang lebih penting lagi, yakni kemampuan membangun industri sekecil apapun akan memiliki dampak bagi keluarga dan masyarakat sekelilingnya.

“Bukan sekadar menghidupkan ekonomi komunitas, tapi juga yang utama adalah membangunkan kewarasan publik,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa industri garmen rumahan biasanya dipicu oleh satu orang lalu akan ditiru oleh komunitas di lingkungannya. Karena itu, industri garmen rumahan, selalu tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat.

“Kita jangan membunuh ekonomi masyarakat hanya untuk mengimpor barang yang di negeri asalnya sudah dikategorikan sebagai sampah,” tandasnya.

(Nasihin/*)

Add Comment