a

Membedah Pemikiran Al Mawardi Dalam Konsep Kepemimpinan

Membedah Pemikiran Al Mawardi Dalam Konsep Kepemimpinan

JAKARTA (5 April) : DPP NasDem Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik bersama Tim Perpustakaan Panglima Itam NasDem Tower menyelenggarakan Bahtsul Kutub untuk membedah dan memahami lebih dalam kandungan Kitab Al-Ahkamu Sulthaniyah karya Al Mawardi. Kegiatan berlangsung secara hybrid dan disiarkan langsung dari Panglima Itam Library of NasDem, Selasa (5/4).

Acara Ngaji Kitab Kuning pertemuan perdana ini dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang menjadi pembicara utama pada pembahasan topik kali ini.

Selain itu juga hadir Ketua Mahkamah Partai NasDem, Saur Hutabarat serta sejumlah pengurus DPP NasDem seperti A. Effendy Choirie alias Gus Choi, dan Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, Lutfi Andy Mutty.

Diskusi kali ini berlangsung makin tajam dan mendalam berkat kepiawaian Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik DPP NasDem, Ahmad Baidhowi AR dalam memandu jalannya diskusi.

Mengawali pemaparan materinya Prof. Komaruddin Hidayat menuturkan bahwa sedikitnya ada tujuh syarat menjadi seorang pemimpin pada konteks era kejayaan Dinasti Abbasiyah atau di kenal The Golden Age of Islam.

“Seorang pemimpin menurut al-Mawardi harus memenuhi tujuh syarat yaitu, pertama, adil, kedua, memiliki perpektif ilmu yang luas untuk pembelaan terhadap aspek masyarakat, ketiga, sehat panca indra, keempat, sehat badan (jasmani), kelima, pandai mengendalikan urusan rakyat, keenam, berani dan tegas serta punta integritas membela rakyat, dan menjaga wibawa wilayah dan Negara dan ketujuh, memiliki nashab Quraisy,” terang dia.

Menurut dia diperlukan adanya suatu badan independen dan terpercaya untuk mewakili masyarakat memastikan punya pemimpin yang ideal. Sebagai institusi partai politik NasDem lanjut dia juga dapat memastikan calon pemimpin yang diusung memiliki karakter dan persyaratan yang diutarakan Al Mawardi dalam kitabnya.

“Ada satu kelompok independen yang punya wawasan pengetahuan dialah yang menjadi Steering Commite, formatur panitia yang bisa menentukan dan memilih semacam KPU atau lembaga institusi yang bisa menyaring pemilihan pemimpin di Indonesia mungkin di situ ada DPR MPR KPU kalau di partai ada mejelis partai,” kata Prof. Komaruddin.

Menurut dia manusia itu bisa saja lupa sehingga mesti diingatkan dan harus ada proses check and balance. Al Mawardi lanjut dia dalam konsepnya menkankan substansi keislamannya.

“Beda dengan syariah oleh Al Mawardi itu subtansinya diwujudkan bukan formal labelnya,” kata dia.

Dalam suatu negara pemimpin itu paling bertanggungjawab maka itu dipilih untuk mewujudkan cita-cita negara ini dibentuk. Pemerintah ini menurut dia adalah anak kandung rakyat dan partai politik harus bisa menampung suara rakyat.

Lebih jauh kata Prof. Komaruddin diperlukan adanya partai politik yang mampu menjaga kepercayaan masyarakat pasalnya akan muncul persoalan ketika partai bukan loyal pada rakyat malah berselingkuh dengan para pemilik modal karena partai itu mahal biayanya. Prof Komaruddin pun mengapresiasi adanya forum diskusi dalam mengkaji kitab kuning yang dilakukan NasDem selama Ramadan.

“Bagaimana mengembalikan partai ini menjadi suaraya rakyat sehingga putra-putri tebaik ini nanti memimpin rakyat yang dipilih dan dikawal oleh rakyat melalui partai politik,” sambung dia.

Untuk itu Prof. Komaruddin mengajak semua pihak untuk terus menumbuhkan semangat keadilan dan terus mau belajar. Menurut dia Karakter ideal pemimpin Islam menurut al-Mawardi dapat meliputi aspek adil, memegang hukum, toleransi, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, mempunyai pandangan maju, mempunyai keberanian dan kekuatan serta mempunyai kemampuan dan wibawa.

“Parpol untuk orang yang baik dan berpengetahuan karena politik ini adalah satu ilmu satu seni yang mengatur jalannya masyarakat dari semua ilmu itu di bawah komando parpol mengapa kata Al Mawardi harus kuat pengetahuannya karena dia memimpin semua masyarakat yang banyak orang pintar di dalamnya bayangkan ketika imam atau pemimpin tidak memliki kemempuan seperti itu,” pungkas dia.

(WH)

Add Comment