a

Pemenuhan Gizi Balita Harus Jadi Fokus Hindari Ancaman Stunting

Pemenuhan Gizi Balita Harus Jadi Fokus Hindari Ancaman Stunting

JAKARTA (11 Maret): Para pemangku kepentingan harus memberi perhatian serius terhadap masa depan generasi penerus bangsa dari ancaman stunting di Tanah Air. Upaya berkelanjutan dan terukur dalam penanganan stunting sangat diperlukan.

“Pandemi Covid-19 ini memang membuat banyak  pihak di berbagai sektor kehilangan fokus dalam upaya mengatasi kendala di bidangnya masing-masing. Kondisi pemenuhan gizi balita harus terus menjadi fokus penanganan agar generasi penerus bangsa terhindar dari ancaman stunting,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/3).

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan saat ini Indonesia masih memiliki angka prevalensi stunting yang tinggi, yaitu 24,4%. Artinya 1 dari 4 anak di Tanah Air stunting. Angka tersebut masih di atas angka standar yang ditoleransi WHO, yaitu di bawah 20%.

Menurut Lestari yang akrab disapa Rerie, catatan 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting merupakan kondisi yang harus ditangani segera, agar berbagai potensi yang dimiliki generasi penerus bangsa dapat dikembangkan secara maksimal.

Upaya mengatasi ancaman stunting, ujar Legislator NasDem itu, membutuhkan kerja sama semua pihak mulai dari masyarakat di lingkup keluarga hingga para pemangku kepentingan di tingkat Pemerintah Pusat.

Pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi yang baik bagi balita, tegas Rerie, harus terus ditingkatkan dan disosialisasikan. Sehingga, setiap keluarga memahami apa yang wajib diberikan agar setiap anggota keluarganya memiliki kecukupan gizi yang baik.

Rerie, yang juga anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu meminta para pemangku kepentingan segera mengambil langkah-langkah strategis dan terukur dalam upaya menekan angka stunting di Indonesia.

Untuk mengakselerasi upaya menekan angka prevalensi stunting, Rerie menegaskan, perlu keterlibatan berbagai pihak dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas dan media.

Diperlukan pemahaman yang sama dari berbagai pihak agar terjadi kolaborasi yang baik dalam merealisasikan generasi penerus bangsa yang memiliki kecukupan gizi yang baik.(*)

Add Comment