a

Ayep Zaki Perluas Kemitraan ke Budidaya Jagung Hibrida 

Ayep Zaki Perluas Kemitraan ke Budidaya Jagung Hibrida 

SUKABUMI (10 Maret): Setelah kedelai yang menjadi primadona kemitraan dengan petani, kini H. Ayep Zaki memperluas kemitraannya dengan petani jagung di wilayah Sukabumi.  Langkah ini diambil Dewan Pakar NasDem Kabupaten Sukabumi itu sebagai bentuk kongkrit program peningkatan produktivitas hasil pertanian.

Salah satu langkah pengembangan kegiatan pertanian ini berupa sosialisasi program kemitraan jagung hibrida. Giat sosialisasi tersebut telah dilakukan dengan kelompok tani di Blok Cisitu, Desa Citamiang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (9/3).

Selain sosialisasi kemitraan yang dilakukan Sekjend Forum Komunikasi Doa Bangsa (FKDB) Hikmat Taufik, sebagai perpanjangan tangan Ayep Zaki itu juga melakukan survei lahan dengan luas hamparan awal terdata mencapai kurang lebih 20 Ha.

“Ini adalah langkah nyata. Selain kedelai yang sudah mulai dilakukan tahapan-tahapan produksinya, kini tengah dilakukan sosialisasi program kemitraan untuk jagung hibrida dan langsung dilakukan survei lahan,” ungkap Ayep Zaki dalam keterangannya, Kamis, (10/3).

Ditegaskan Ayep Zaki, semua ini merupakan bukti komitmennya terhadap bidang pertanian yang terus digulirkan di Kabupaten Sukabumi. Tujuan utamanya adalah peningkatan produktivitas hasil pertanian.

Bahkan bukan hanya lahan yang disurvei, melainkan juga lokasi pembangunan resi gudang di lahan seluas 1.100 m2 yang berlokasi di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.

“Jika produktivitas pertanian meningkat, maka dengan sendirinya akan memberikan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan yang nyata bagi petani. Begitupun dengan adanya resi gudang, itu merupakan penanganan hasil pascapanen, baik untuk kedelai maupun jagung,” tukas Ayep Zaki.

Ayep Zaki yang juga pengurus aktif Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menyatakan, seluruh pembiayaan 20 ha lahan untuk jagung hibrida tersebut masih dibiayai atau masih menggunakan dana internal tim. Termasuk juga lahan seluas 30 ha untuk tanaman kedelai di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

“Langkah awal ini seluruh pembiayaannya masih dari dana mandiri. Padahal kami sangat berharap, pihak perbankan bisa melihat sendiri bahwa program kemitraan dengan petani sangat menjanjikan. Baik itu untuk swasembada kedelai maupun jagung hibrida,” terang Ayep Zaki. 

Oleh karenanya, Ayep Zaki mendesak, seluruh instrumen keuangan pemerintah, baik pusat dan daerah, BUMN komisi keuangan, dan pihak pihak terkait segera memberikan respons agar dunia pertanian diberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan dunia cocok tanam.

“Kabupaten Sukabumi itu di Jawa Barat, tapi pihak perbankan di sana sangat ‘slow respons’, ini yang membuat saya tidak mengerti. Padahal program ini kan untuk memakmurkan petani Jawa Barat sendiri,” tegas Ayep.

Kalau saja program kemitraan dengan petani ini bisa didukung pihak perbankan, tambah Ayep, akselerasi program swasembada kedelai dan jagung hibrida bisa lebih agresive dan bisa mengatasi kelangkaan kedelai di musim-musim tertentu.

“Bayangkan saja, masih ada puluhan ribu hektar atau bahkan ratusan ribu hektar lahan yang membutuhkan uluran tangan dunia perbankkan agar Indonesia benar-benar bisa berdaulat pangan. Jika petani dibiarkan sendiri, tanpan bantuan perbankan, sudah sewajarnya kita tidak boleh berharap banyak pada petani bisa memenuhi kebutuhan pangan Indonesia,” tutup Ayep Zaki.

(WH)

Add Comment