a

Diversifikasi Pangan Lokal Menuju Gizi Seimbang

Diversifikasi Pangan Lokal Menuju Gizi Seimbang

JAKARTA (19 Juli): DPP Garda Wanita (Garnita) Malahayati NasDem menggelar diskusi ‘Ngobrol Asyik (Ngobr-Ask) secara virtual melalui Aplikasi Zoom, Sabtu (18/7). Acara itu memperingati HUT ke 9 Garnita Malahayati NasDem.

Diskusi bertajuk 'Badan Sehat Gizi Seimbang dengan Diversifikasi Pangan Lokal' itu dihadiri beberapa narasumber, yaitu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, anggota Komisi IV DPR RI, Charles Meikyansah serta Ketua Umum Garnita Malahayati NasDem, Indira Chandra Thita Syahrul sebagai pembuka diskusi. 

Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Kementerian Pertanian mendorong upaya diversifikasi pangan lokal, dalam mengantisipasi krisis pangan global dan ancaman kekeringan. Pasalnya, prediksi BMKG menunjukan ada beberapa daerah rawan kekeringan yang perlu diawasi selama musim kemarau 2020.

"Perlu dilakukan diversifikasi untuk penyediaan alternatif sumber karbohidrat lokal nonberas dan menggerakan ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19," ujarnya. 

Syahrul menyebutkan, selain membuat masyarakat tidak hanya bertumpu pada komoditas beras, program diversifikasi makanan sebagai bagian dari kekayaan, budaya, dan kebesaran bangsa.

"Bukan hanya beras, tapi berbagai pangan lain ada ubi kayu, jagung, sagu, kentang, pisang, talas, dan lainnya. Langkah diversifikasi pangan ke depan yakni memperkuat tiap komoditas pangan di masing-masing wilayah," katanya. 

Charles Meikyansah mengatakan, di Indonesia terdapat daerah rentan pangan. Setidaknya ada 88 kabupaten/kota yang terdiri atas 956 kecamatan.

Berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI), keadaan Indonesia membaik dari sebelumnya 54,8 pada 2018 menjadi 62,6 pada 2019.

"Perbaikan ini harus terus dilakukan, utamanya dalam aspek availability serta quality safe," imbuh Charles. 

Legislator NasDem dapil Jawa Timur IV itu menyebutkan, Indonesia memiliki GFSI terendah di lima provinsi, yaitu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Kalimantan Barat.

"Pemerintah harus memastikan provinsi dengan GFSI terendah tersebut kebutuhan pangannya tercukupi selama pandemi Covid-19," tegasnya.

Tidak hanya itu, Charles juga mengatakan, diversifikasi pangan lokal serta penguatan cadangan dan sistem logistik pangan harus diperkuat.

"Karena, bangsa yang mandiri dalam pangan adalah bangsa yang kuat, Bangsa Indonesia harus mampu menggali dan mengembangkan potensi pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan nasional," paparnya.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Edi Santosa, menegaskan ada beberapa kriteria pangan paling disukai milenial. Rujukan pangan generasi milenial, yaitu teman temannya, ibunya, dan dari cerita atau foto yang didapat dari website/blog/medsos.

"Oleh karena itu, agar permintaan pangan lokal tidak terputus, saya menyarakan agar membangun memori positif individual, membangun memori kolektif masyarakat untuk diversifikasi pangan berupa energi restorasi mental, kesiapan bencana dan etnisitas," terang Edi Santosa.

Ditambahkan, kriteria lainnya adalah memblending pariwisata dengan pangan lokal, kemudian mewariskan keahlian mengolah pangan lokal kepada generasi muda, menambah variasi menu makan untuk gizi seimbang, dan insentif bagi petani.

"Kepeloporan public figure untuk stigma positif pangan lokal juga bisa dianggap penting," tegas Edi.

Nara sumber lain, Maria Loretha atau yang biasa disebut “Mama Sorgum” bertekad mengembalikan sorgum ke Bumi Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, NTT adalah negeri biji-bijian yang sejak zaman Belanda, Pulau Lembata sudah dikenal sebagai pulau sereal atau pulau biji-bijian.

"Lahan di NTT 80 persen itu semi arid dengan curah hujan sangat rendah. Mimpi besar NTT adalah bisa menjadi lumbung sorgum  nasional di tahun 2025," tegas Maria Loretha. 

Ditegaskan Maria, tantangan kondisi lahan di NTT yang berbatu, bertanah dan batu karang berpasir tidak mungkin bisa dikerjakan traktor seperti di tempat lain. Namun, tambah Maria, hal itu berhasil dikalahkan masyarakat NTT yang sudah dipelopori sejak lima tahun lalu.

"Kenapa harus sorgum untuk NTT? Karena sorgum bisa menjadi jawaban mengatasi malnutrisi dan gempur stunting di  NTT. Sorgum dapat tumbuh dengan baik di kondisi lahan NTT. Banyak sudah penelitian dilakukan baik oleh IPB maupun yang lain dan ada juga dari pengalaman saya pribadi yang merasakan manfaat sorgum," terang Maria.

Saat ini, warga NTT dan Mama Sorgum diberikan bantuan proyek pengembangan sorgum seluas 3000 hektar di 14 kabupaten dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Mama Sorgum bersama Yaspensel Keuskupan Larantuka yang dipimpin Romo Benyamin Daud Pr sudah memastikan ketersediaan benih dengan varietas baik untuk proyek pengembangan ini.

Sedangkan Indira Chandra Thita Syahrul menegaskan, diversifikasi pangan lokal adalah konsep yang sinergis dan terpadu dengan konsumsi pangan menuju ke arah gizi yang seimbang. 

"Karena itu, dibutuhkan sinergi antara kementerian dan kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan termasuk Garnita Malahayati NasDem. Tujuannya, untuk terus-menerus mengedukasi masyarakat dan mensosialisasikan potensi pangan lokal kepada seluruh masyarakat," tutup Indira dalam diskusi tersebut.(HH/*)

Add Comment