Subardi Gagas Wisata Penangkaran Burung

SLEMAN (15 Oktober): Anggota Komisi VI DPR RI, Subardi, mengapresiasi keseriusan warga yang tergabung dalam komunitas penangkaran burung. Selain mengandung nilai bisnis, kegiatan itu juga bertujuan melestarikan lingkungan

Hal tersebut disampaikan Legislator NasDem yang akrab disapa Mbah Bardi itu saat meninjau lokasi penangkaran burung, di Desa Margorejo, Kecamatan Tempel, Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (14/10).

“Ini menjadi wadah kebersamaan bagi penggemar burung. Kegiatannya positif, ada nilai bisnisnya sekaligus berperan melestarikan lingkungan, menjaga spesies burung dari kepunahan,” ujarnya.

Ke depan, anggota Fraksi NasDem DPR RI itu menggagas penangkaran burung untuk dijadikan obyek wisata edukasi. Warga yang tergabung dalam komunitas tersebut akan dibentuk organisasi berbadan hukum. Konsep wisata penangkaran burung akan dikemas dengan wisata lingkungan, karena lokasi desa Margerojo tak jauh dari lereng Merapi. 

Ketua DPW NasDem DIY itu yakin, dengan keuntungan lokasi yang dekat lereng, ini akan menjadikan obyek wisata sebagai ikon baru desa Margorejo.

“Warga yang tergabung dalam kelompok penangkar burung disini sangat antusias. Tadi lurah juga menjanjikan obyek wisata pakai (sewa) tanah kas desa. Saya akan fasilitasi perizinannya ke pemerintah daerah atau ke Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Subardi.

Penangkaran burung disini terdiri dari berbagai jenis, mulai dari jenis berkicau dan jenis burung hias seperti murai batu, kecer jawa, love bird, cucak rawa, gelatik, jalak bali, hingga yang langka seperti kakatua dan merak hijau jawa. Para penangkar burung juga memiliki izin resmi dari Kementerian Kehutanan dan BKSDA.

Anggit Syarifudin, salah satu penangkar mengatakan, sebagian burung langka seperti merak hijau jawa yang memiliki panjang bulu hingga lebih dari 2 meter tidak dijualbelikan. Ia memilih konservasi sendiri untuk dikembangbiakkan dengan metode inkubator. Namun, untuk jenis burung yang banyak digemari, ia mengaku nilai bisnisnya mencapai Rp20 juta per bulan. 

“Ada yang statusnya dilindungi atau langka, itu tidak boleh dikomersilkan. Untuk jenis burung berkicau, dan burung hias saya memanfaatkan pasar online hingga ke banyak daerah, mulai dari Aceh, Jayapura, Ambon, dan sebagian Sulawesi. Rata-rata setiap bulannya mencapai Rp20 juta” katanya.

Berbeda dengan Suharno, penangkar lainnya yang fokus menangkar burung berkicau seperti cucak rawa yang tak kalah menguntungkan. 

“Anak cucak rawa yang baru sebulan menetas dibeli seharga Rp10 juta. Setiap bulan penangkaran di sini netas terus,” ungkapnya.

Di pertemuan kali ini Subardi memberi bantuan modal bergilir. Seluruh penangkar mendapat jatah modal dengan cara bergilir sesuai kesepakatan mereka. Harapannya, kelompok penangkaran burung semakin besar hingga terbentuk ladang bisnis melalui obyek wisata.

“Saya optimistis ini menjadi ekonomi wisata yang menjanjikan sekaligus pelestarian habitat burung,” tegasnya. (Nizar/*)

Written by 

Berita Serupa