BUMN Sering Terlambat Bayar Kontraktor Lokal

YOGYAKARTA (10 September): Proyek jalan tol di Yogyakarta, baik Tol Jogja-Bawen maupun Jogja-Solo mendapat perhatian serius anggota Komisi VI DPR RI Fraksi NasDem, Subardi. Legislator NasDem dapil DIY itu menyoroti pola kerja sama antara BUMN dengan kontraktor lokal yang kerap bermasalah. BUMN sebagai penanggung jawab seringkali lalai membayar kewajibannya kepada kontraktor lokal.

“Banyak kontraktor atau subkontraktor yang telat dibayar. Bahkan pernah setelah enam bulan proyek (kontrak) selesai baru dibayar. Model kerja sama ini tidak boleh terulang dalam proyek Tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR dengan bersama PT Adhi Karya dan beberapa perusahaan BUMN, Kamis (10/9).

Subardi menilai pola kerja sama yang demikian akan memicu masalah seperti penurunan kualitas dan pengerjaan yang berlarut-larut. Sebagian dari kontraktor juga terancam bangkrut karena kehabisan modal. Ia khawatir kondisi itu akan memicu disharmoni antara BUMN dengan kontraktor lokal.

“Kalau BUMN tidak disiplin, sentimen swasta kepada BUMN akan menguat. Apalagi porsi untuk kontraktor non-BUMN sangat kecil. Ini mencoreng cita-cita pembangunan untuk keadilan sosial,” tegas wakil rakyat dari dapil DIY itu.

Proyek Tol Jogja-Bawen memasuki tahap konsultasi publik untuk pembebasan lahan. Sementara proyek Tol Jogja-Solo memasuki tahap pematokan lahan. Sejauh ini pematokan baru selesai di Desa Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY.

Jalan tol Jogja-Bawen memiliki panjang 77 Km. Sedangkan Jalan Tol Solo–Jogja hingga Kulonprogo memiliki panjang 91,93 Km. Kedua proyek akan dilelang tahun ini. Nilai investasi untuk Jogja Bawen diperkirakan Rp13,56 triliun, sementara untuk Solo Jogja-Kulonprogo sebesar Rp20,46 triliun.(Nizar/*).

Written by 

Berita Serupa