Politik Kemanusiaan Martanti Soenar Dewi

WONOSARI (20 Oktober): Evi Wulandari, warga Karanganom, Ngawis, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, DIY, tak menyangka didatangi Martanti Soenar Dewi, calon Wakil Bupati Gunungkidul, DIY yang diusung Partai NasDem.

Sejak tahun 2019 Evi Wulandari mengidap tumor di bagian leher. Kedatangan Martanti pada Sabtu, 3 Oktober lalu berawal dari cerita para driver ojek online yang ia dengar saat di warung makan, tak jauh dari Kantor Polres Gunungkidul. Esoknya, Martanti membesuk Evi yang ternyata istri dari salah satu pengemudi ojek online.

Tak hanya Evi. Pada Minggu (18/10), Martanti mendatangi seorang wanita sepuh yang hidup sebatang kara, di Pucanganom, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Nenek bernama Ruginem itu menderita lumpuh sejak 5 tahun silam. 

Tak jauh dari rumah Ruginem, seorang gadis berusia 23 tahun terbaring lemah karena menderita kelainan pada kulitnya. Isti Nurjanah, hanya bisa menjalani hari-harinya di atas tempat tidur. Badannya kurus, tak bertenaga. Bagian kulit di sekujur tubuhnya tampak mengelupas. Penyakit itu diderita sejak lahir dan kian parah semenjak Isti duduk di bangku Sekolah Dasar. Sempat menjadi siswa berprestasi, Isti memutuskan berhenti karena tak kuat menahan sakit di sekujur tubuhnya.

Potret tersebut adalah sebagian dari aktivitas Martanti di sela kampanye. Agenda-agenda politik tak menyurutkan antusiasnya untuk membantu sesama. Memang sejak lama, sosok yang dikenal sebagai aktivis sosial itu gemar mendatangi warga yang membutuhkan bantuan.

“Setiap kampanye saya selalu bertanya, adakah warga di sekitar sini yang sedang sakit atau kesusahan? Kalau ada, saya sempatkan datang untuk memberi semangat sekaligus membantu apa yang bisa saya bantu,” tutur wanita yang memiliki trah dari Tumenggung Pontjodirjo, bupati pertama Gunungkidul di tahun 1831, Selasa (20/10).

Calon Wakil Bupati Guungkidul itu bercerita ada kisah pilu saat berkunjung ke panti asuhan. Ia tersentuh dengan kisah kelam anak-anak di panti tersebut. Banyak di antara anak-anak yang ditinggal pergi orang tuanya, ditemukan terlantar di terminal, kelaparan di jalanan karena dipaksa bekerja. 

“Sebagai seorang ibu, saya menangis menyaksikan anak-anak dengan trauma yang amat pedih,” ujarnya dengan raut muka sedih.

Martanti sebagai satu-satunya Cawabup perempuan itu mengajak siapapun dengan kesibukan apapun untuk berbakti kepada sesama. Baginya, berbakti pada sesama menjadi sebuah disiplin. 

“Saya yakin, sebenarnya mereka punya semangat juang yang tinggi, mungkin saja lingkungan kurang mendukung. Disitulah tugas kita untuk memberi semangat,” ungkap Martanti.  

Lebih lanjut, ia menilai rasa kemanusiaan tidak boleh luntur meski sedang mengikuti kontestasi politik. 

“Saya ingin menunjukkan politik bukan hanya soal kekuasaan. Politik sejatinya untuk kemanusiaan. Dengan jalur politik, saya ingin membuktikan ada keberpihakan untuk nilai kemanusiaan,” tegasnya.(Zar/red)

Written by 

Berita Serupa