a

Perlu Reevaluasi Kebijakan Impor Indonesia

Perlu Reevaluasi Kebijakan Impor Indonesia

JAKARTA (17 Maret): Merebaknya virus corona yang menjadi pandemic global tentu mempengaruhi ekonomi dunia, dimulai dari pasar saham yang cenderung turun hingga mempengaruhi rantai pasokan bahan baku dari negara-negara pengimpor. 

Kasus positif corona di Indonesia yang semakin hari semakin meningkat, menurut anggota Komisi XI DPR dari Fraksi NasDem, Ahmad Hatari, setidaknya memberi pelajaran terhadap kebijakan impor Indonesia. 

Ketergantungan yang begitu besar terhadap impor dalam kondisi darurat seperti ini, kata dia di Jakarta, Selasa (17/3), menjadi bumerang tersendiri bagi Indonesia.

Hatari memberikan contoh, sebagian besar bahan baku untuk pembuatan masker dan hand sanitizer misalnya diimpor dari India dan China, belum lagi dari industri lain yang erat kaitannya dengan negara-negara pandemi corona.

Legislator NasDem ini menegaskan bahwa kebijakan impor Indonesia harus dievaluasi, "terlebih neraca perdagangan kita dengan negara pandemi corona mengalami defisit."

Ia menyebutkan bahwa neraca perdagangan dengan China pada 2019 saja sudah defisit 11 miliar dolar AS dari produk nonmigas. 

“Defisit neraca perdagangan ini harus dimaknai bahwa kita terlalu banyak impor. Ketika corona menjadi pandemi dunia, ini yang harus kita evaluasi kebijakannya. Bisa-bisa ekonomi nasional lumpuh kalau tergantung pada impor,” tegas politisi asal Maluku Utara ini.

Hatari mengatakan  Indonesia harus mampu menciptakan industri dalam negeri yang kuat, baik industri hulu maupun hilir. 

"Penguatan ekonomi ini perlu dilakukan di tengah hilirisasi produk namun bahan baku sebagian besar impor."

Menurut dia, ada dua mata pisau dalam kejadian corona ini, di satu sisi pandemi corona sangat mengerikan, namun di sisi lain neraca perdagangan Indonesia surplus karena saat ini tidak memungkinkan untuk impor.

Dalam tingkatan kebijakan, Hatari mengusulkan kebijakan-kebijakan strategis Indonesia agar terus dijaga, terutama neraca perdagangan, "sebab neraca perdagangan adalah pertanda bahwa kita masih tergantung pada impor," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan per Februari 2020 mengalami surplus. Hal ini dikarenakan penurunan impor  migas tercatat sebesar 1,75 miliar dolar AS atau turun 12,05 persen dari 1,99 miliar dolar AS.

Sementara impor nonmigas senilai 9,85 miliar dolar AS atau mengalami koreksi 19,77 persen dari 12,28 miliar dolar AS.*

Add Comment