a

Surya Paloh: Untuk Apa Pemilu Jika Rugikan Bangsa dan Negara

Surya Paloh: Untuk Apa Pemilu Jika Rugikan Bangsa dan Negara

PALEMBANG (4 Maret): Ketua Umum Partai NasDem yang juga Anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokow- KH Ma'ruf Amin,  Surya Paloh mengatakan hoaks atau berita bohong yang beredar menjelang Pemilu Serentak 17 April 2019 akan mengancam persatuan bangsa.

"Sosial media yang begitu canggih sekarang ini, timbul hoaks, misalnya, fitnah, sirik, dengki, khianat, dan sebagainya ini mengancam kebersamaan kita sesama warga negara bangsa ini. Inilah yang mengancam persatuan," tegas Surya saat mengunjungi dan memberikan pengarahan Tim Kampanye Daerah (TKD) Sumatera Selatan di Kantor TKD Jakabaring, Kota Palembang, Minggu (3/3).

Lebih jauh Surya menilai para penyebar hoaks tidak mempedulikan ancaman persatuan dan melihat memenangkan pemilu itu seperti sebagai hidup mati saja.

"Seakan-akan masalahnya adalah hidup atau mati. Seakan-akan kita sudah harus siap menerima kalau pemilu ini walaupun akan menimbulkan perpecahan bangsa," kata Paloh.

Untuk itu, tokoh Nasional ini mengajak semua pihak memikirkan akibat yang ditimbulkan hoaks bisa menimbulkan perpecahan bangsa.

"Kalau sudah tahu ini hanya untuk merugikan bangsa untuk apa pemilu? kita lebih mengutamakan persatuan bangsa, itu harus  diingat," tegas Paloh.

Paloh mengaja anggota TKD dan relawan pendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin memahami terkait pentingnya persatuan rakyat dan bangsa Indonesia. 

"Pemahaman-pemahaman ini penting bagi tim TKD Sumsel supaya terisi sedikit pikiran-pikirannya, kita sayang kepada negeri ini, kita sayang pada persatuan bangsa kita ini melebihi sayang kita kepada hari Pemilu itu sendiri," kata Paloh.

Surya khawatir jika pemerintahan berganti, kelanjutan progres pembangunan yang sedang dijalankan pemerintahan Jokowi ini tidak akan berlanjut, karena lain konsep, lain pandangan, lain pikiran, dan melahirkan lain kebijakan.

Paloh menegaskan kekhawatiran adanya pertentangan antara memilih Jokowi dengan tidak memilih Jokowi sudah sarat dengan politik aliran, perbedaan suku, agama.

"Itu jelas bertentangan dengan pemahaman dan kelaziman kehidupan kita di negeri Pancasila ini. Karena komitmen kebangsaan kita dengan ideologi Pancasila, itu jelas memberikan mandat kepada kita pemahaman pada kita, kita harus saling menghargai perbedaan itu," tegasnya.

Bahkan, lanjut Paloh, bangsa Indonesia menganggap perbedaan bukan kelemahan, tetapi merupakan cakrawala keindahan yang dipersatukan dalam perbedaan-perbedaan tetapi satu jua.

"Nah itulah filosofis yang kita miliki, maka kehidupan suku bangsa kita yang bermacam-macam aneka ragam ini, sampai hari ini Insyaallah dan Alhamdulillah kita bisa di posisi yang saling bisa bekerja sama menghormati satu sama lain," harapnya.(Ant/*)

Add Comment