a

NasDem sebagai Alat Perjuangan

NasDem sebagai Alat Perjuangan

NasDem sebagai Alat Perjuangan

PONTIANAK (18 September): Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem Willy Aditya kembali mengungkap bahwa Ketua Umum Surya Paloh mendirikan Partai NasDem bukan semata-mata untuk mengikuti pemilu.  

"Bahkan bukan nafsu Pak Surya untuk jadi presiden, tetapi ingin menjadikan NasDem sebagai alat perjuangan, jadi bukan sekadar mesin politik saat pemilu," ungkap Willy saat memberikan sambutan di Rapat Koordinasi Wilayah IV, Konsolidasi dan Orientasi Caleg Partai NasDem se Kalimantan Barat, Senin (17/9).

Lebih jauh ditegaskan Willy, NasDem didirikan untuk menjadi alat perjuangan guna menjalankan agenda restorasi.

"Restorasi adalah kita harus berdiri dan maju berdasarkan kondisi dan realitas obyektif wilayah," papar Willy.

Ketua DPP Bidang Media dan Komunikasi Publik itu juga menerangkan, mengapa sampai hari ini belum ada Institut Rawa padahal di Indonesia itu terdapat banyak rawa.

"Indonesia ini mayoritas air, transportasi air di mana-mana, tapi mengapa itu tidak dikembangkan, karena tidak memanfaatkan dan berbasiskan apa yang kita miliki. Inilah momentumnya. NasDem punya gubernur, punya kepala daerah, punya legislatif bahkan NasDem juga presiden," terang Willy.

Pada kesempatan tersebut Willy juga mengingatkan kembali bahwa Presiden Soekarno pernah menyampaikan usulannya di sidang PBB agar menjadikan Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional. 

"Bahasa Indonesia itu yang mempersatukan nusa dan bangsa. Bahasa Indonesia adalah yang konkret dan nyata mempersatukan. Kan jadi ada yang keblinger kalau debat presiden pakai bahasa Inggris," tegas Willy lagi.

Willy kembali mengingatkan kepada caleg se Kalimantan Barat yang hadir di ruangan tersebut, bahwa Surya Paloh mengingatkan, mau pergi haji berapa kalipun, mau nonton film Korea boleh, tapi identitas kebangsaan jangan dilupakan.

"Ini tugas sejarah kita bersama, apakah kita akan tegak berdiri atau membebek kebudayaan asing. Apakah jadi korea, jadi Amerika, itu tergantung. Kalau bangga dengan kebudayaan dan leluhur kita, maka kita harus berani mengembangkannya," terang Willy.(*)

Add Comment