a

Edi Santoso, Menyemangati yang Muda

Edi Santoso, Menyemangati yang Muda

JAKARTA, (16 November): Dari parasnya memang terlihat bahwa dia sudah senior. Namun siapa sangka, kader NasDem asal Kulonprogo, Yogyakarta ini sudah berusia 86 tahun. 

Di antara koleganya sesama pengurus DPC dan DPD se-Yogyakarta, dia masih terlihat bugar. Sambil bersenda gurau mengisi masa rehat di hari ke-2, senyumnya senantiasa mengembang. Semangatnya juga luar biasa. Bersama rekan-rekannya yang lain, dia naik bus 10 jam lebih dari Kulonprogo menuju Jakarta.

Dialah Edi Santoso, peserta Rakernas IV Partai NasDem yang digelar di Kemayoran, Jakarta. Pria sepuh yang lahir di Yogyakarta pada 10 Oktober 1931 ini menjadi peserta tertua Rakernas yang dimulai tanggal 15 hingga 17 November 2017 ini.

Bukan sekadar pengurus biasa, Edi adalah Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Nglendah, Kulonprogo, Yogyakarta. Dia mengaku bergabung dengan NasDem sejak partai ini berdiri enam tahun yang lalu.

Saat ditanya mengapa bergabung dengan NasDem, dia menjawab, "Karena NasDem punya visi yang jelas. Memperhatikan yang kecil dan bisa bekerja sama dengab pemerintah," ujarnya mantap.

Rupanya, Mbah Edi, begitu para koleganya sering menyapa, bukan orang kemarin sore dalam dunia politik. Pemilik gelar SH dari Universitas Gajah Mada angkatan kedua ini pernah menjadi anggota DPR RI selama tiga periode. Bersama Golkar kala itu, Mbah Edi menjadi anggota DPR periode 1977, 1982, dan 1987.

"Saya waktu itu di Komisi Kesra dan Pemerintahan," imbuhnya.

 SH Jogja, 10 Oktober 1931

Golkar, DPR, 77, 82, 87 DPR Komisi Kesra, pemerintahan, 

Sejak mudanya, Mbah Edi dikenal aktif berorganisasi. Salah satunya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. "Saya Ketua HKTI Jogja tahun 77," ucapnya.

Dia juga mengaku menjadi salah satu pencetus konsep Perkebunan Inti Rakyat (PIR) masa Orde Baru dulu.

Tidak hanya itu, Mbah Edi juga pernah menjadi pengacara tahun 1967-1985. Berbagai kasus sudah pernah ditanganinya. Dan hebatnya dia tidak pernah kalah. Di kemudian waktu dia menyatakan berhenti secara formal dalam dunia kepengacaraan ini. 

"Selama berpraktik saya ndak pernah kalah. Tahun 85 pengadilan sudah main uang. Saya berhenti sejak saat itu," ujarnya. 

Selama hampir 20 tahun berpraktik kasus yang paling berkesan dalam karirnya adalah saat dia melawan Profesor Kasman. "Sidang sampai dua tahun. Kasusnya kasus tanah dan bangunan. Nah,  Prof Kasman ini lulusan Leiden (Belanda)," begitu dia menuturkan.

Di sela-sela berbagai kesibukan dan aktivitasnya dia juga pernah merasakan menjadi guru SPG – sekolah khusus untuk mencetak para guru dulu.

Nyatalah sudah, segudang pengalaman ternyata tersimpan dalam raut dan pembawaan Mbah Edi yang polos. Siapa sangka,  di balik senyum sederhananya ternyata dia pernah menjadi politisi handal. 

Kini tersisa tanya, apa yang membuat Mbah Edi masih mau aktif di partai politik di usia pensiunnya itu? Dengan tulus dia menjawab," Untuk menyemangati yang muda-muda!"(*)

Add Comment